Kata Pengantar
Dengan menyebut nama Allah SWT yang
Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas
kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada
kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ilmiah tentang broken home ini.
Makalah ilmiah ini telah kami susun
dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat
memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima
kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.
Terlepas dari semua itu, Kami menyadari
sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun
tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala
saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ilmiah ini.
Akhir kata kami berharap semoga
makalah ilmiah tentang broken home ini dapat memberikan manfaat maupun inpirasi
terhadap pembaca.
Gunung Putri, 03 September 2016
Kelompok 7
BAB I
PENDAHULUAN
1. LATAR BELAKANG
Sebagai makhluk sosial, mungkin tak
jarang kita temui sebagai anak remaja yang frustasi atau depresi karena beragam
masalah yang muncul dengan berbagai alasan, faktor utamanya adalah orang tua.
Sebagai remaja, tentunya kita tak asing lagi dengan kata “Broken Home” atau
keluarga yang tidak harmonis. Kata inilah yang biasanya menyelimuti rasa takut
para remaja saat ini, ketika kedua orang tua mereka sedang berbeda pendapat
atau berselisih paham. Maka remaja merupakan masa dimana seorang sedang
mengalami saat kritis sebab ia akan menginjak ke masa dewasa.
Remaja berada dalam masa peralihan.
Dalam masa peralihan itu pula remaja sedang mencari identitasnya atau mencari
jati diri. Dalam proses perkembangan yang serba sulit dan masa-masa
membingungkan dirinya, remaja membutuhkan perhatian dan bantuan dari orang yang
dicintai dan dekat dengannya terutama orang tua atau keluarganya. Seperti yang
telah diketahui bahwa fungsi keluarga adalah memberi pengayoman sehingga
menjamin rasa aman maka dalam masa kritisnya remaja sungguh-sungguh membutuhkan
realisasi fungsi tersebut.
2. TUJUAN
Penulisan makalah ini bertujuan
supaya orang tua lebih memperhatikan perkembangan anak dan tidak hanya
mementingkan egonya masing-masing seperti berpisah atau bercerai, karena sikap
orang tua itu sangat berpengaruh pada perkembangan anak terutama remaja. Dan
setiap anak akan selalu membutuhkan dukungan dari kedua orangtuanya dan ingin
lengkap mendapatkan kasih sayang dari kedua orangtuanya langsung. Selain itu
tujuan utama dari penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata pelajaran
Bimbingan Konseling/BK yang diberikan oleh guru bidang studi Bimbingan
Konseling/BK.
BAB II
PEMBAHASAN
1. PENGERTIAN
REMAJA
Remaja adalah periode perkembangan
antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa. Perkembangan ini meliputi
perubahan-perubahan yang berhubungan dengan perkembangan psikoseksual, dan juga
terjadi pada perubahan dalam hubungannya dengan orang tua dan cita-cita mereka.
Remaja merupakan masa yang labil, dimana mereka sedang mencari jati diri
mereka, dan merekalah yang menentukan mau ke arah mana mereka esok hari.
Menurut psikologi, remaja adalah
suatu periode transisi dari masa awal anak anak hingga masa awal dewasa, yang
dimasuki pada usia kira kira 10 hingga 12 tahun dan berakhir pada usia 18 tahun
hingga 22 tahun.
2. PENGERTIAN
BROKEN HOME
Broken home adalah kurangnya
perhatian dari keluarga atau kurangnya kasih sayang dari orang tua sehingga
membuat mental seorang anak menjadi frustasi, brutal dan susah diatur. Broken
home sangat berpengaruh besar pada mental seorang pelajar, hal inilah yang
mengakibatkan seorang pelajar tidak mempunyai minat untuk berprestasi. Broken
home juga bisa merusak jiwa anak sehingga dalam sekolah mereka bersikap
seenaknya saja, tidak disiplin di dalam kelas, mereka selalu berbuat keonaran
dan kerusuhan hal ini dilakukan karena mereka cuma ingin cari simpati pada teman-teman
mereka bahkan pada guru-guru mereka. Untuk menyikapi hal semacam ini kita perlu
memberikan perhatian dan pengerahan yang lebih agar mereka sadar dan mau
berprestasi.
Istilah “broken home” biasanya
digunakan untuk menggambarkan keluarga yang berantakan akibat orang tua tidak
lagi peduli dengan situasi dan keadaan keluarga di rumah. Orang tua tidak lagi
perhatian terhadap anak-anaknya, baik masalah di rumah, sekolah, sampai pada
perkembangan pergaulan anak-anaknya di masyarakat.
Orang tua adalah panutan dan teladan
bagi perkembangan remaja terutama pada perkembangan psikis dan emosi, orang tua
adalah pembentukan karakter yang terdekat. Jika remaja dihadapkan pada kondisi
“Broken Home” dimana orang tua mereka tidak lagi menjadi panutan bagi dirinya
maka akan berdampak besar pada perkembangan dirinya.
Dampak psikis yang dialami oleh
remaja yang mengalami broken home, remaja menjadi lebih pendiam, pemalu, bahkan
despresi berkepanjangan. Faktor lingkungan tempat remaja bergaul adalah sarana
lain jika orang tua sudah sibuk dengan urusannya sendiri. Jika remaja berada di
lingkungan pergaulan yang negatif, karena keadaannya labil maka tidak menutup
kemungkinan remaja akan tercebur dalam lembah pergaulan yang tidak baik.
Namun, broken home dapat juga
diartikan dengan kondisi keluarga yang tidak harmonis dan tidak berjalan
layaknya keluarga yang rukun, damai, dan sejahtera karena sering terjadi
keributan serta perselisihan yang menyebabkan pertengkaran dan berakhir pada
perceraian yang menimbulkan dampak yang
sangat besar terutama bagi anak-anak.
3. FAKTOR –
FAKTOR PENYEBAB BROKEN HOME
Adapun faktor-faktor yang menyebabkan broken home adalah:
a. Terjadinya perceraian diantara kedua orang tua yang
menyebabkan dampak psikologi terhadap anak yang biasanya mendapatkan kasih
sayang dari kedua orang tuanya, namun kini setelah kedua orang tuanya berpisah
membuat anak kesepian dengan keadaan ini.
b. Ketidakdewasaan sikap orang tua terhadap masalah yang
sedang dihadapi mereka sehingga anak selalu menjadi korban dari pertengkaran
kedua orang tuanya.
c. Orang tua yang kurang memiliki rasa tanggung jawab
sehingga selalu membiarkan keadaan anak-anak dirumah sehingga keadaan lahir
maupun batin anak-anak yang tidak menjadi perhatian kedua orang tuanya karena
kesibukan pekerjaan kedua orang tuanya.
d. Jauh dari agama Allah SWT, sehingga disaat terjadi masalah
yang sangat berat menimpa pada kedua orang tuanya tidak ada pegangan batin pada
kedua orang tuanya sehingga Allah SWT tidak dijadikan curahan hati disaat
mereka tertimpa masalah.
e. Adanya masalah ekonomi, salah satunya juga masalah ekonomi
yang yang sangat minimal dari keadaan kedua orang tuan ataupun keadaan ekonomi
yang salah satu sangat besar antara suami maupun istri, sehingga sering terjadi
percekcokan diantara mereka.
4. DAMPAK
BROKEN HOME
Dampak Positif Broken Home :
Dalam hubungan nikah yang sudah
sangat jelek, yang pertengkarannya sudah sangat parah, kebanyakan anak-anak
akan memilih supaya mereka bercerai. Demi kesehatan jiwa anak-anak akan lebih
tentram sewaktu dilepaskan dari suasana seperti itu. Pada waktu orang tua tidak
tinggal bersama-sama dengan mereka rasanya lebih tenang karena tidak harus
menyaksikan pertengkatan. Akhirnya, mereka lebih mantap, lebih damai hidupnya
dan lebih bisa berhubungan dengan orang tuanya sacara lebih sehat.
Ada sisi positif dari anak korban perceraian atau broken
home, misalnya :
a. Anak cepat dewasa
b. Punya rasa tanggung jawab yang baik, bisa membantu ibunya.
Memang ada anak yang bisa jadi nakal
luar biasa, tapi ada yang kebalikannya justru menjadi anak yang sangat baik dan
bertanggungjawab. Anak-anak ini akhirnya didorong kuat untuk mengambil alih
peran orang tua yang tidak ada lagi dalam keluarganya. Secara luar kita melihat
sepertinya baik menjadi dewasa, tapi sebetulnya secara kedewasaan tidak terlalu baik karena dia
belum siap untuk mengambil alih peran orang tuanya itu.
Dampak Negatif Broken Home
a. Perkembangan Emosi
Emosi merupakan situasi psikologi
yang merupakan pengalaman subjektif yang dapat dilihat dari reaksi wajah dan
tubuh. Perceraian adalah suatu hal yang harus dihindari, agar emosi anak tidak
menjadi terganggu. Perceraian adalah suatu penderitaan atau pengalaman dramatis
bagi anak.
Perceraian orang tua membuat
tempramen anak terpengaruh, pengaruh yang tampak secara jelas dalam
perkembangan emosi itu membuat anak menjadi pemurung, pemalas (menjadi agresif)
yang ingin mencari perhatian orang tua / orang lain. Mencari jati diri dalam
suasana rumah tangga yang tumpang dan kurang serasi.
Peristiwa perceraian itu menimbulkan
ketidakstabilan emosi. Ketidakberartian
pada diri remaja akan mudah timbul, sehingga dalam menjalani kehidupan remaja
merasa bahwa dirinya adalah pihak yang tidak diharapkan dalam kehidupan ini. Remaja yang kebutuhannya kurang dipenuhi oleh
orang tua, emosi marahnya akan mudah terpancing.
b. Perkembangan Sosial Remaja.
Dampak keluarga Broken Home terhadap perkembangan sosial
remaja adalah:
1.) Perceraian orang tua menyebabkan ketidakpercayaan diri
terhadap kemampuan dan kedudukannya, dia merasa rendah diri menjadi takut untuk
keluar dan bergaul dengan teman- teman. Anak sulit menyesuaikan diri dengan
lingkungan.
2.) Anak yang dibesarkan dikeluarga pincang, cenderung sulit
menyesuaikan diri dengan lingkungan, kesulitan itu datang secara alamiah dari
diri anak tersebut.
3.) Dampak bagi remaja putri yang tidak mempunyai ayah
berperilaku dengan salah satu cara yang ekstrim terhadap laki-laki, mereka
sangat menarik diri pasif dan minder kemungkinan yang kedua terlalu aktif,
agresif dan genit.
c. Perkembangan Kepribadian
Perceraian ternyata memberikan dampak kurang baik terhadap
perkembangan kepribadian remaja. Remaja yang orang tuannya bercerai cenderung
menunjukan ciri-ciri :
1.) Berperilaku nakal
2.) Mengalami depresi
3.) Melakukan hubungan seksual secara aktif
4.) Kecenderungan pada obat-obat terlarang
Keadaan keluarga yang tidak harmonis, tidak stabil atau
berantakan (broken home) merupakan faktor penentu bagi perkembangan kepribadian
remaja yang tidak sehat.
5. EFEK –
EFEK KEHIDUPAN SESEORANG BROKEN HOME
Efek efek kehidupan seseorang broken home, antara lain :
a. Academic Problem, seorang yang mengalami broken home akan
menjadi orang yang malas belajar, dan tidak bersemangat berprestasi.
b. Behavioural Problem, mereka mulai memberontak, kasar, masa
bodoh, memiliki kebiasaan merusak, seperti mulai merokok, minum minum, judi,
lari ketempat pelacuran.
c. Sexual Problem, krisis kasih mau coba ditutupi dengan
mencukupi kebutuhan hawa nafsu
d. Spritual Problem, mereka kehilangan father’s figure (Figur
seorang ayah) sehingga Tuhan, pendeta, atau orang orang rohani hanya bagian
dari sebuah sandiwara kemunafikan
6. GANGGUAN
KEJIWAAN PADA SEORANG BROKEN HOME
a. Broken Heart : seseorang akan merasakan kepedihan dan
kehancuran hati sehingga memandang hidup ini sia-sia dan mengecewakan.
Kecenderungan ini membentuk seseorang tersebut menjadi orang yang krisis kasih
sayang dan biasanya lari kepada yang bersifat keanehan sexual. Misalnya sex bebas,
homo sex, lesbian, jadi simpanan irang, tertarik dengan istri orang, atau suami
orang dan lainnya.
b. Broken Relation : seseorang akan merasa bahwa tidak ada
orang yang perlu di hargai, tidak ada orang yang dapat dipercaya serta tidak
ada orang yang dapat diteladani. Kecenderungan ini membentuk seseorang menjadi
orang yang masa bodoh terhadap orang lain, ugal ugalan, cari perhatian, kasar,
egois, dan tidak mendengar nasihat orang lain, cenderung “semau gue”.
c. Broken Values : seseorang akan kehilangan ”nilai
kehidupan” yang benar. Baginya dalam hidup ini tidak ada yang baik, benar, atau
merusak, yang ada hanya yang ”menyenangkan” dan yang ”tidak menyenangkan”,
pokoknya apa saja yang menyenangkan saya lakukan, apa yang tidak menyenangkan
tidak saya lakukan.
7. SOLUSI MEMINIMALISIR DAMPAK NEGATIF TERHADAP REMAJA BROKEN
HOME
Agar para remaja yang sedang mencari
jati diri tidak semakin terjerumus, tentunya diperlukan peranan orang tua.
Selain itu, dibutuhkan pengawasan ketat dari pihak sekolah dan itu menjadi
kunci keberhasilan pencegahan kenakalan remaja baik sebagai akibat broken home
maupun akibat hal lainnya. Peran orang tua dirumah dan peran sekolah menjadi
kunci keberhasilan pencegahan moral remaja akibat pengaruh pergaulan bebas.
Kasih sayang dan perhatian orang tua adalah langkah pertama.
a. Berbasis Pendidikan Formal.
Ruang kedua bagi anak/remaja adalah
pendidikan formal. Disini mereka bergelut dengan waktu, menumpahkan sebagian
besar energinya untuk mendalami berbagai ilmu pengetahuan, bekalnya di kemudian
hari ketika terjun di masyarakat. Institusi pendidikan juga memiliki peran
penting melanjutkan estapet orang tua dalam mendidik dan membimbing
anak-anaknya. Karena itulah, pendidikan formal harus berjalan maksimal.
b. Berbasis Masyarakat atau Sosial
Masyarakat adalah tempat dimana
orang-orang dengan berbagai latar belakang membentuk sebuah sistem. Mereka
hidup bersama dalam satu komunitas yang teratur. Dimana sebagian besar
interaksi adalah antara individu-individu yang berada dalam kelompok tersebut.
Lebih abstraknya, sebuah masyarakat adalah suatu jaringan hubungan-hubungan
antar entitas-entitas. Masyarakat adalah sebuah komunitas yang saling
tergantung satu sama lain. Pencerahan berbasis masyarakat ini diharapkan dapat
menggugah, mendorong dan menggerakkan masyarakat untuk sadar, peduli, dan aktif
terhadap remaja yang mengalami broken home.
BAB III
PENUTUP
1. KESIMPULAN
Dari semua pembahasan diatas dapat
disimpulkan bahwa broken home yang marak terjadi dikalangan masyarakat besar
yang sangat merugikan faktor psikologi anak yang menjadi korban rusaknya rumah
tangga orang tuanya. Banyak orang tua yang merasa dirinya paling berjasa karena
telah melahirkan dan membesarkannya, tidak segan- segan menghakimi berbagai
persoalan dan permasalahan yang dihadapi atau dilakukan anak. Bahkan, tidak
jarang orang tua hanya berfungsi reproduksi, setelah itu proses pendidikan dan
bimbingan dikuasakan kepada pembantu rumah tangga. Ini banyak terjadi pada
keluarga-keluarga di kota besar yang sibuk di perbudak pekerjaan sehingga hak-
hak anak atas kasih sayang, pendidikan, dan bimbingan terabaikan. Muncullah
istilah Broken Home, dimana anak mencari tempat pelarian yang mereka tidak
didapatkan dari orang tuanya.
Sebagai seorang anak atau remaja
dimana kehidupannya mengalami keadaan Broken Home harus menghadapi keadaan
tersebut dengan positif, agar tidak terjerumus kedalam pergaulan yang salah, beberapa
hal menghadapi broken home dengan positif, diantaranya :
a. Tariklah pelajaran positif dari masalah tersebut
b. Dekatkan diri pada Tuhan
c. Jangan menghakimi semua orang karena keadaan tersebut
d. Tetap menjaga diri dan memegang teguh kebenaran
e. Broken home bukanlah akhir dunia
2. SARAN
Bagi para orang tua, renungkanlah
bunyi frase “Anakmu bukan anakmu”. Anakmu adalah amanah Allah SWT kepada kedua
orang tuanya. Artinya, suatu saat pasti akan diminta dan kembali kepada-Nya
sebagai Sang Pemilik Sejati. Orang tua berkewajiban mendidik dan membimbingnya.
Maka dari itu berikanlah pendidikan yang baik, kasih sayang, dan perhatian
penuh untuknya agar tercipta keluarga yang harmonis, rukun dan damai.
Sebagai Anak atau remaja yang berada
dalam kondisi keluarga yang broken home, harus menyikapi dan menghadapi keadaan
tersebut dengan sikap yang positif agar tidak terjerumus kepergaulan yang
merugikan diri sendiri dan orang lain.
Daftar Pustaka
http://www.slideshare.net/dianmantikha/makalah-filsafat-pendidikan-ian
http://blogriyani.blogspot.com/2011/12/broken-home-di-indonesia.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar