Jumat, 02 September 2016

Makalah tentang Broken Home

Kata Pengantar

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ilmiah tentang broken home ini.
Makalah ilmiah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.
            Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ilmiah ini.
Akhir kata kami berharap semoga makalah ilmiah tentang broken home ini dapat memberikan manfaat maupun inpirasi terhadap pembaca.
  
                                                                                     
Gunung Putri, 03 September 2016

Kelompok 7



BAB I
PENDAHULUAN

1.     LATAR BELAKANG
Sebagai makhluk sosial, mungkin tak jarang kita temui sebagai anak remaja yang frustasi atau depresi karena beragam masalah yang muncul dengan berbagai alasan, faktor utamanya adalah orang tua. Sebagai remaja, tentunya kita tak asing lagi dengan kata “Broken Home” atau keluarga yang tidak harmonis. Kata inilah yang biasanya menyelimuti rasa takut para remaja saat ini, ketika kedua orang tua mereka sedang berbeda pendapat atau berselisih paham. Maka remaja merupakan masa dimana seorang sedang mengalami saat kritis sebab ia akan menginjak ke masa dewasa.
Remaja berada dalam masa peralihan. Dalam masa peralihan itu pula remaja sedang mencari identitasnya atau mencari jati diri. Dalam proses perkembangan yang serba sulit dan masa-masa membingungkan dirinya, remaja membutuhkan perhatian dan bantuan dari orang yang dicintai dan dekat dengannya terutama orang tua atau keluarganya. Seperti yang telah diketahui bahwa fungsi keluarga adalah memberi pengayoman sehingga menjamin rasa aman maka dalam masa kritisnya remaja sungguh-sungguh membutuhkan realisasi fungsi tersebut.

2.     TUJUAN
Penulisan makalah ini bertujuan supaya orang tua lebih memperhatikan perkembangan anak dan tidak hanya mementingkan egonya masing-masing seperti berpisah atau bercerai, karena sikap orang tua itu sangat berpengaruh pada perkembangan anak terutama remaja. Dan setiap anak akan selalu membutuhkan dukungan dari kedua orangtuanya dan ingin lengkap mendapatkan kasih sayang dari kedua orangtuanya langsung. Selain itu tujuan utama dari penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata pelajaran Bimbingan Konseling/BK yang diberikan oleh guru bidang studi Bimbingan Konseling/BK.


BAB II
PEMBAHASAN

1. PENGERTIAN REMAJA
Remaja adalah periode perkembangan antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa. Perkembangan ini meliputi perubahan-perubahan yang berhubungan dengan perkembangan psikoseksual, dan juga terjadi pada perubahan dalam hubungannya dengan orang tua dan cita-cita mereka. Remaja merupakan masa yang labil, dimana mereka sedang mencari jati diri mereka, dan merekalah yang menentukan mau ke arah mana mereka esok hari.
Menurut psikologi, remaja adalah suatu periode transisi dari masa awal anak anak hingga masa awal dewasa, yang dimasuki pada usia kira kira 10 hingga 12 tahun dan berakhir pada usia 18 tahun hingga 22 tahun.

2. PENGERTIAN BROKEN HOME
Broken home adalah kurangnya perhatian dari keluarga atau kurangnya kasih sayang dari orang tua sehingga membuat mental seorang anak menjadi frustasi, brutal dan susah diatur. Broken home sangat berpengaruh besar pada mental seorang pelajar, hal inilah yang mengakibatkan seorang pelajar tidak mempunyai minat untuk berprestasi. Broken home juga bisa merusak jiwa anak sehingga dalam sekolah mereka bersikap seenaknya saja, tidak disiplin di dalam kelas, mereka selalu berbuat keonaran dan kerusuhan hal ini dilakukan karena mereka cuma ingin cari simpati pada teman-teman mereka bahkan pada guru-guru mereka. Untuk menyikapi hal semacam ini kita perlu memberikan perhatian dan pengerahan yang lebih agar mereka sadar dan mau berprestasi.
Istilah “broken home” biasanya digunakan untuk menggambarkan keluarga yang berantakan akibat orang tua tidak lagi peduli dengan situasi dan keadaan keluarga di rumah. Orang tua tidak lagi perhatian terhadap anak-anaknya, baik masalah di rumah, sekolah, sampai pada perkembangan pergaulan anak-anaknya di masyarakat.


Orang tua adalah panutan dan teladan bagi perkembangan remaja terutama pada perkembangan psikis dan emosi, orang tua adalah pembentukan karakter yang terdekat. Jika remaja dihadapkan pada kondisi “Broken Home” dimana orang tua mereka tidak lagi menjadi panutan bagi dirinya maka akan berdampak besar pada perkembangan dirinya.
Dampak psikis yang dialami oleh remaja yang mengalami broken home, remaja menjadi lebih pendiam, pemalu, bahkan despresi berkepanjangan. Faktor lingkungan tempat remaja bergaul adalah sarana lain jika orang tua sudah sibuk dengan urusannya sendiri. Jika remaja berada di lingkungan pergaulan yang negatif, karena keadaannya labil maka tidak menutup kemungkinan remaja akan tercebur dalam lembah pergaulan yang tidak baik.
Namun, broken home dapat juga diartikan dengan kondisi keluarga yang tidak harmonis dan tidak berjalan layaknya keluarga yang rukun, damai, dan sejahtera karena sering terjadi keributan serta perselisihan yang menyebabkan pertengkaran dan berakhir pada perceraian  yang menimbulkan dampak yang sangat besar terutama bagi anak-anak.


3. FAKTOR – FAKTOR PENYEBAB BROKEN HOME
Adapun faktor-faktor yang menyebabkan broken home adalah:
a. Terjadinya perceraian diantara kedua orang tua yang menyebabkan dampak psikologi terhadap anak yang biasanya mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya, namun kini setelah kedua orang tuanya berpisah membuat anak kesepian dengan keadaan ini.
b. Ketidakdewasaan sikap orang tua terhadap masalah yang sedang dihadapi mereka sehingga anak selalu menjadi korban dari pertengkaran kedua orang tuanya.
c. Orang tua yang kurang memiliki rasa tanggung jawab sehingga selalu membiarkan keadaan anak-anak dirumah sehingga keadaan lahir maupun batin anak-anak yang tidak menjadi perhatian kedua orang tuanya karena kesibukan pekerjaan kedua orang tuanya.
d. Jauh dari agama Allah SWT, sehingga disaat terjadi masalah yang sangat berat menimpa pada kedua orang tuanya tidak ada pegangan batin pada kedua orang tuanya sehingga Allah SWT tidak dijadikan curahan hati disaat mereka tertimpa masalah.
e. Adanya masalah ekonomi, salah satunya juga masalah ekonomi yang yang sangat minimal dari keadaan kedua orang tuan ataupun keadaan ekonomi yang salah satu sangat besar antara suami maupun istri, sehingga sering terjadi percekcokan diantara mereka.
4. DAMPAK BROKEN HOME
Dampak Positif Broken Home :
Dalam hubungan nikah yang sudah sangat jelek, yang pertengkarannya sudah sangat parah, kebanyakan anak-anak akan memilih supaya mereka bercerai. Demi kesehatan jiwa anak-anak akan lebih tentram sewaktu dilepaskan dari suasana seperti itu. Pada waktu orang tua tidak tinggal bersama-sama dengan mereka rasanya lebih tenang karena tidak harus menyaksikan pertengkatan. Akhirnya, mereka lebih mantap, lebih damai hidupnya dan lebih bisa berhubungan dengan orang tuanya sacara lebih sehat. 
Ada sisi positif dari anak korban perceraian atau broken home, misalnya :
a. Anak cepat dewasa
b. Punya rasa tanggung jawab yang baik, bisa membantu ibunya.
Memang ada anak yang bisa jadi nakal luar biasa, tapi ada yang kebalikannya justru menjadi anak yang sangat baik dan bertanggungjawab. Anak-anak ini akhirnya didorong kuat untuk mengambil alih peran orang tua yang tidak ada lagi dalam keluarganya. Secara luar kita melihat sepertinya baik menjadi dewasa, tapi sebetulnya secara  kedewasaan tidak terlalu baik karena dia belum siap untuk mengambil alih peran orang tuanya itu.

Dampak Negatif Broken Home
a. Perkembangan Emosi
Emosi merupakan situasi psikologi yang merupakan pengalaman subjektif yang dapat dilihat dari reaksi wajah dan tubuh. Perceraian adalah suatu hal yang harus dihindari, agar emosi anak tidak menjadi terganggu. Perceraian adalah suatu penderitaan atau pengalaman dramatis bagi anak.
Perceraian orang tua membuat tempramen anak terpengaruh, pengaruh yang tampak secara jelas dalam perkembangan emosi itu membuat anak menjadi pemurung, pemalas (menjadi agresif) yang ingin mencari perhatian orang tua / orang lain. Mencari jati diri dalam suasana rumah tangga yang tumpang dan kurang serasi.
Peristiwa perceraian itu menimbulkan ketidakstabilan emosi.  Ketidakberartian pada diri remaja akan mudah timbul, sehingga dalam menjalani kehidupan remaja merasa bahwa dirinya adalah pihak yang tidak diharapkan dalam kehidupan ini.  Remaja yang kebutuhannya kurang dipenuhi oleh orang tua, emosi marahnya akan mudah terpancing.
b. Perkembangan Sosial Remaja.
Dampak keluarga Broken Home terhadap perkembangan sosial remaja adalah:
1.) Perceraian orang tua menyebabkan ketidakpercayaan diri terhadap kemampuan dan kedudukannya, dia merasa rendah diri menjadi takut untuk keluar dan bergaul dengan teman- teman. Anak sulit menyesuaikan diri dengan lingkungan.
2.) Anak yang dibesarkan dikeluarga pincang, cenderung sulit menyesuaikan diri dengan lingkungan, kesulitan itu datang secara alamiah dari diri anak tersebut.
3.) Dampak bagi remaja putri yang tidak mempunyai ayah berperilaku dengan salah satu cara yang ekstrim terhadap laki-laki, mereka sangat menarik diri pasif dan minder kemungkinan yang kedua terlalu aktif, agresif dan genit.

c. Perkembangan Kepribadian
Perceraian ternyata memberikan dampak kurang baik terhadap perkembangan kepribadian remaja. Remaja yang orang tuannya bercerai cenderung menunjukan ciri-ciri :
1.) Berperilaku nakal
2.) Mengalami depresi
3.) Melakukan hubungan seksual secara aktif
4.) Kecenderungan pada obat-obat terlarang
Keadaan keluarga yang tidak harmonis, tidak stabil atau berantakan (broken home) merupakan faktor penentu bagi perkembangan kepribadian remaja yang tidak sehat.






5. EFEK – EFEK KEHIDUPAN SESEORANG BROKEN HOME
Efek efek kehidupan seseorang broken home, antara lain :
a. Academic Problem, seorang yang mengalami broken home akan menjadi orang yang malas belajar, dan tidak bersemangat berprestasi.
b. Behavioural Problem, mereka mulai memberontak, kasar, masa bodoh, memiliki kebiasaan merusak, seperti mulai merokok, minum minum, judi, lari ketempat pelacuran.
c. Sexual Problem, krisis kasih mau coba ditutupi dengan mencukupi kebutuhan hawa nafsu
d. Spritual Problem, mereka kehilangan father’s figure (Figur seorang ayah) sehingga Tuhan, pendeta, atau orang orang rohani hanya bagian dari sebuah sandiwara kemunafikan

6. GANGGUAN KEJIWAAN PADA SEORANG BROKEN HOME
a. Broken Heart : seseorang akan merasakan kepedihan dan kehancuran hati sehingga memandang hidup ini sia-sia dan mengecewakan. Kecenderungan ini membentuk seseorang tersebut menjadi orang yang krisis kasih sayang dan biasanya lari kepada yang bersifat keanehan sexual. Misalnya sex bebas, homo sex, lesbian, jadi simpanan irang, tertarik dengan istri orang, atau suami orang dan lainnya.
b. Broken Relation : seseorang akan merasa bahwa tidak ada orang yang perlu di hargai, tidak ada orang yang dapat dipercaya serta tidak ada orang yang dapat diteladani. Kecenderungan ini membentuk seseorang menjadi orang yang masa bodoh terhadap orang lain, ugal ugalan, cari perhatian, kasar, egois, dan tidak mendengar nasihat orang lain, cenderung “semau gue”.
c. Broken Values : seseorang akan kehilangan ”nilai kehidupan” yang benar. Baginya dalam hidup ini tidak ada yang baik, benar, atau merusak, yang ada hanya yang ”menyenangkan” dan yang ”tidak menyenangkan”, pokoknya apa saja yang menyenangkan saya lakukan, apa yang tidak menyenangkan tidak saya lakukan.



7. SOLUSI MEMINIMALISIR DAMPAK NEGATIF TERHADAP REMAJA BROKEN HOME
Agar para remaja yang sedang mencari jati diri tidak semakin terjerumus, tentunya diperlukan peranan orang tua. Selain itu, dibutuhkan pengawasan ketat dari pihak sekolah dan itu menjadi kunci keberhasilan pencegahan kenakalan remaja baik sebagai akibat broken home maupun akibat hal lainnya. Peran orang tua dirumah dan peran sekolah menjadi kunci keberhasilan pencegahan moral remaja akibat pengaruh pergaulan bebas. Kasih sayang dan perhatian orang tua adalah langkah pertama.
a. Berbasis Pendidikan Formal.
Ruang kedua bagi anak/remaja adalah pendidikan formal. Disini mereka bergelut dengan waktu, menumpahkan sebagian besar energinya untuk mendalami berbagai ilmu pengetahuan, bekalnya di kemudian hari ketika terjun di masyarakat. Institusi pendidikan juga memiliki peran penting melanjutkan estapet orang tua dalam mendidik dan membimbing anak-anaknya. Karena itulah, pendidikan formal harus berjalan maksimal.

b. Berbasis Masyarakat atau Sosial
Masyarakat adalah tempat dimana orang-orang dengan berbagai latar belakang membentuk sebuah sistem. Mereka hidup bersama dalam satu komunitas yang teratur. Dimana sebagian besar interaksi adalah antara individu-individu yang berada dalam kelompok tersebut. Lebih abstraknya, sebuah masyarakat adalah suatu jaringan hubungan-hubungan antar entitas-entitas. Masyarakat adalah sebuah komunitas yang saling tergantung satu sama lain. Pencerahan berbasis masyarakat ini diharapkan dapat menggugah, mendorong dan menggerakkan masyarakat untuk sadar, peduli, dan aktif terhadap remaja yang mengalami broken home.






BAB III
PENUTUP
1. KESIMPULAN
Dari semua pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa broken home yang marak terjadi dikalangan masyarakat besar yang sangat merugikan faktor psikologi anak yang menjadi korban rusaknya rumah tangga orang tuanya. Banyak orang tua yang merasa dirinya paling berjasa karena telah melahirkan dan membesarkannya, tidak segan- segan menghakimi berbagai persoalan dan permasalahan yang dihadapi atau dilakukan anak. Bahkan, tidak jarang orang tua hanya berfungsi reproduksi, setelah itu proses pendidikan dan bimbingan dikuasakan kepada pembantu rumah tangga. Ini banyak terjadi pada keluarga-keluarga di kota besar yang sibuk di perbudak pekerjaan sehingga hak- hak anak atas kasih sayang, pendidikan, dan bimbingan terabaikan. Muncullah istilah Broken Home, dimana anak mencari tempat pelarian yang mereka tidak didapatkan dari orang tuanya.
Sebagai seorang anak atau remaja dimana kehidupannya mengalami keadaan Broken Home harus menghadapi keadaan tersebut dengan positif, agar tidak terjerumus kedalam pergaulan yang salah, beberapa hal menghadapi broken home dengan positif, diantaranya :
a. Tariklah pelajaran positif dari masalah tersebut
b. Dekatkan diri pada Tuhan
c. Jangan menghakimi semua orang karena keadaan tersebut
d. Tetap menjaga diri dan memegang teguh kebenaran
e. Broken home bukanlah akhir dunia
2. SARAN
Bagi para orang tua, renungkanlah bunyi frase “Anakmu bukan anakmu”. Anakmu adalah amanah Allah SWT kepada kedua orang tuanya. Artinya, suatu saat pasti akan diminta dan kembali kepada-Nya sebagai Sang Pemilik Sejati. Orang tua berkewajiban mendidik dan membimbingnya. Maka dari itu berikanlah pendidikan yang baik, kasih sayang, dan perhatian penuh untuknya agar tercipta keluarga yang harmonis, rukun dan damai.
Sebagai Anak atau remaja yang berada dalam kondisi keluarga yang broken home, harus menyikapi dan menghadapi keadaan tersebut dengan sikap yang positif agar tidak terjerumus kepergaulan yang merugikan diri sendiri dan orang lain.
Daftar Pustaka

http://www.slideshare.net/dianmantikha/makalah-filsafat-pendidikan-ian
http://blogriyani.blogspot.com/2011/12/broken-home-di-indonesia.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Psikologi (from test_psikologi)

1. Kehidupan modern memanjakan manusia dan membuat segala sesuatu menjadi lebih mudah. Tapi kehidupan modern juga membuat manusia cepat ma...